Home / Pilkada / Kalimantan / 5 Figur Kuat di Pilwali Tarakan 2018
Foto-Ilustrasi-Pilkada_rimanews.com_jpg

5 Figur Kuat di Pilwali Tarakan 2018

TARAKAN – Belakangan ini tema politik kian populer, bahkan menjadi trending topik pembahasan lintas kalangan masyarakat Kota Tarakan. Analisa dari berbagai kalangan pun turut meramaikan agenda Pilwali yang akan digelar pada 2018 mendatang.

Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Tarakan, Hariadi Hamid pun ikut berkomentar. Bahkan ia sudah mereka-reka nama yang bakal menjadi calon kuat dalam agenda politik lima tahunan tersebut.

Hariadi Hamid memprediksi ada lima figur kuat yang berpotensi memenangi Pilwali Tarakan 2018 mendatang. Di antaranya, Sofian Raga, dr Khairul, Arief Hidayat, Umi Suhartini, dan Badrun.

“Untuk Sofian Raga sendiri, lantaran saat ini memiliki kekuasaan besar. Dari hasil survei yang dilihat saat ini, Sofiyan Raga paling teratas,” jelas Hariadi Hamid kepada Koran Kaltara, Kamis (16/5).

Lebih lanjut pria yang juga salah satu dosen ekonomi di Universitas Borneo Tarakan (UBT) ini menilai, dr Khairul bakal punya nilai plus karena mengusung tema perubahan.

Sementara itu, Arief Hidayat juga tak kalah saing. Selain menjadi orang nomor 2 di Tarakan saat ini, secara politik ia juga mempunyai nilai tawar tinggi.

Di luar itu, nama Umi Suhartini yang merupakan Istri Bupati Kabupaten Tana Tidung, Undunsyah juga layak diperhitungkan.

“Salah satu kandidat kuat itu juga ibu Umi Suhartini. Meski saat ini ia tidak berdinas di Tarakan, tapi karena nama besar suami dan latar belakang yang baik, kemungkinan menjadi figur yang kuat,” tegasnya.

Untuk yang terakhir yakni Sekretaris Provinsi Kaltara, Badrun. Menurutnya, Badrun mewakili kepentingan Gubernur Kaltara untuk petarungan di Pemilihan Gubernur (Pilgub) 3 tahun ke depan.

“Tarakan bisa menjadi arena pertarungan di Pilwali dari 5 figur itu. Tapi kalau Sofyan Raga menggandeng dr Khairul ketika maju nanti, itu akan menjadi pasangan yang dahsyat,” ungkap pria ramah ini.

Untuk persoalan gandengan di Pilwali, kata dia, bisa dengan cara kombinasi antara politisi dengan birokrasi. Selain itu, persoalan suku, sisi keormasan juga menjadi pembahasan.

“Kombinasi harus saling melengkapi. Seperti politisi digandeng dengan birokrasi. Kemudian suku juga harus berbeda untuk menambah massa. Kalau paslon itu keduanya dengan suku yang sama, bisa saja peluang untuk menang itu kecil,” tuturnya.

Selain itu, bisa melihat lagi dari sisi elektabilitas antar sesama pasangan. Karena, apabila paslon itu tidak memiliki pemikiran yang sama, dikhawatirkan ketika masa kepemimpinan, cara kerjanya akan berbeda.

“Semua itu harus diukur. Karena biasanya, calon itu melihat gandengannya apakah gandengannya itu memiliki sepahaman pemikiran atau tidak? Kemudian bagaimana mengukur kerjasamanya dalam kepemimpinan? Itu bisa diukur semuanya,” katanya.

Sumber : korankaltar.co

Check Also

kota pontianak

Hasil Pleno KPU Kota Pontianak, Edi Kamtono-Bahasan Ungguli Paslon Lain

PONTIANAK – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pontianak telah melakukan rekapitulasi perolehan suara terkait pemilihan …