Home / Pilkada / Kalimantan / Bertekad Menangkan Karolin-Gidot di Kalbar, PDIP Ingatkan Jas Merah
karolin-kalimantan-14042018

Bertekad Menangkan Karolin-Gidot di Kalbar, PDIP Ingatkan Jas Merah

Dalam Pilkada Kalimantan Barat (Kalbar) 2018, PDIP mengusung pasangan Karolin Margareth-Suryadman Gidot. Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, mengingatkan, Pilkada Kalbar 2018 ini bukan hanya momentum konsolidasi partai untuk memenangkan Karolin-Gidot.

“Pilkada Kalbar merupakan penegasan untuk membawa kemajuan Kalbar dengan pijakan sejarah dan berdiri kokoh pada akar kebudayaannya,” ujar Hasto melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (9/4/2018).

Hasto menegaskan, semangat Tanjung Pura itulah yang diangkat oleh PDIP dalam Pilkada Kalbar 2018 ini.

“Semangat Tanjung Pura itulah yang diangkat oleh PDI Perjuangan agar masyarakat Kalbar semakin sadar terhadap sejarah peradabannya,” kata dia.

Hasto menilai, pasangan Karolin-Gidot mampu menjadikan Kalbar menjadi provinsi yang lebih baik lagi ke depannya.

“Karolin-Gidot punya komitmen kuat untuk menghadirkan keseluruhan tradisi kebudayaan Tanjung Pura dan menjadikan Kalbar sebagai daerah perbatasan untuk menjadi beranda terdepan Indonesia,” paparnya.

Keseluruhan komitmen Jas Merah ini dinyatakan dalam Rakerdasus PDIP Kalbar guna memenangkan pasangan Karolin-Gidot.

Rakerdasus selain dihadiri Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP PDIP Bidang Perempuan Sri Rahayu, juga dihadiri oleh Lazarus, Michael Jeno, dan Erwin Tobing yang merupakan anggota DPR RI.Dia mengingatkan kepada semua masyarakat dan kadernya soal “Jas Merah” alias jangan sekali-kali meninggalkan sejarah dalam setiap konsolidasi Pilkada Serentak 2018 ini. Hal ini dilakukan guna memahami keseluruhan nilai kebudayaan dan sejarah peradaban di setiap provinsi, termasuk juga di Tanjung Pura, Kalbar.

“Kalimantan Barat ditinjau dari kewilayahan merupakan provinsi dengan luas wilayah terbesar ketiga di Indonesia. Pada Abad 8 sampai 15, Kerajaan Tanjung Pura sangat dikenal dengan tradisi bahari yang begitu besar dan merupakan kerajaan Hindu yang mejadi bagian dari Singasari dan Majapahit,” ucap dia.

Lalu, kata Hasto, pada Abad 16, seiring dengan perkembangan Islam di Nusantara, hadirlah Kerajaan Islam Tanjung Pura.

Semuanya, kata dia, berjalan melalui proses akulturasi sehingga Kalimantan Barat pada akhirnya hadir sebagai sintesis berbagai nilai-nilai keagamaan dan peradaban dunia.

“Hal inilah yang menjelaskan mengapa masyarakat Kalbar dikenal terbuka, toleran, dan berbagai suku bangsa mampu tinggal bersampingan secara damai,” kata Hasto.

sumber : liputan6.com

Check Also

hasto-kalimantan-16042018

PDIP Minta Seluruh Kader Menangkan Pilkada dan Pemilu

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto membakar semangat seluruh kadernya di Kalimantan Barat untuk …